An Enjoyable Life

What makes life truly enjoyable?

Is it passive income, recognition, trophies, making the 30 Under 30 list, becoming one of the richest, having good friends, accumulating wealth, or gaining power?

These are things many people pursue. But underneath them all is a simple desire: we want to enjoy life.

For me, it comes down to three things: enak makan, enak tidur, and loving God through others.

The last one matters most.

Imagine having wealth, recognition, power, and everything you have ever wanted, yet missing these three fundamentals. You might have the finest food but no appetite. You might have a comfortable bed but no peace of mind. You might be surrounded by people but feel neither loved nor connected to God.

Enak makan is more than enjoying good food. It is being grateful for what God has provided, including our health and the simple ability to enjoy His gifts.

Enak tidur is more than sleeping comfortably. It is having the peace of mind to rest without being constantly consumed by fear, guilt, or worry. Of course, even a person with a peaceful heart can struggle with insomnia or anxiety. The point is not perfect circumstances, but the deeper peace we seek amid life’s uncertainties.

But the third is the most important: loving God through loving others. It gives our lives meaning beyond personal comfort and achievement.

The Purpose Behind Our Enjoyment

Romans 8:28 is often quoted, but its message becomes even clearer when we read the next verse:

“We know that all things work together for good for those who love God, who are called according to his purpose.” (Romans 8:28, NRSV-CE)

Then Paul explains what this good ultimately means:

“For those whom he foreknew he also predestined to be conformed to the image of his Son.” (Romans 8:29, NRSV-CE)

These verses reveal two important truths.

First, loving God is not merely believing in Him or asking Him to bless our plans. It means responding to His call and allowing our lives to be shaped by Christ. The Catechism reminds us that God created us to share in His blessed life (CCC 1).

Second, God can bring good even out of painful circumstances. The Catechism teaches that He can bring good from the consequences of evil, without making evil itself good (CCC 312–314).

Our deepest good, therefore, is not simply getting what we want. It is becoming the person God calls us to be and ultimately sharing in His life.

Joy Even Amid Sorrow

Does this mean that a life lived according to God’s purpose will always be comfortable or happy?

No.

Christian joy does not mean pretending that suffering does not hurt. Gaudium et Spes, the Second Vatican Council’s Pastoral Constitution on the Church in the Modern World, teaches that the joys and hopes, griefs and anxieties of humanity are also those of Christ’s followers (GS 1).

We can love God and still experience sorrow, disappointment, exhaustion, and uncertainty. What changes is not necessarily how we feel at every moment, but the meaning and direction of our lives.

Think about falling in love. When we genuinely love someone, we are willing to go the extra mile. We sacrifice time, endure inconvenience, and face difficulties we might otherwise avoid. The problems remain, but love gives us a reason to persevere.

The same principle applies to our relationship with God. When we serve only because we feel forced, every obstacle can become a reason to complain. When we serve out of love, sacrifice can become meaningful—even joyful.

This is not about enjoying every hardship. It is about knowing why we endure it and whom we are serving.

A Life Worth Waking Up For

Finding our calling helps us understand why we get up in the morning, why we keep going, and why certain responsibilities are worth carrying.

Jesus tells us to take up our cross and follow Him (Matthew 16:24). The cross is not always pleasant, but love can transform the way we carry it.

So imagine achieving everything the world tells you to pursue, yet missing the joy of loving God through others. What would all that success mean?

Let us pursue an enjoyable life—not merely one filled with comfort, wealth, or recognition, but one in which we are grateful for what we have, seek peace of heart, and love others according to God’s purpose.

That is a life worth waking up for.


----


Menikmati Hidup

Apa yang membuat hidup benar-benar menyenangkan?

Apakah passive income, pengakuan, piala penghargaan, masuk daftar 30 Under 30, menjadi salah satu orang terkaya, memiliki banyak teman, mengumpulkan kekayaan, atau memperoleh kekuasaan?

Banyak orang mengejar hal-hal tersebut. Namun, di balik semuanya, ada satu keinginan sederhana: kita ingin menikmati hidup.

Bagi saya, semuanya bermuara pada tiga hal: enak makan, enak tidur, dan cinta Tuhan melalui sesama.

Yang terakhir inilah yang paling penting.

Bayangkan kita memiliki kekayaan, pengakuan, kekuasaan, dan segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi kehilangan ketiga hal mendasar ini. Kita mungkin memiliki makanan terbaik, tetapi tidak berselera makan. Kita mungkin memiliki tempat tidur yang nyaman, tetapi tidak bisa tidur dengan tenang. Kita mungkin dikelilingi banyak orang, tetapi tidak merasa dikasihi ataupun dekat dengan Tuhan.

Enak makan bukan sekadar menikmati makanan yang enak. Ini juga berarti bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan, termasuk kesehatan dan kemampuan sederhana untuk menikmati karunia-Nya.

Enak tidur bukan sekadar tidur di tempat yang nyaman. Ini berarti memiliki ketenangan batin sehingga kita dapat beristirahat tanpa terus-menerus dikuasai ketakutan, rasa bersalah, atau kekhawatiran. Tentu saja, orang yang memiliki ketenangan batin pun dapat mengalami gangguan tidur atau kecemasan. Intinya bukan memiliki keadaan hidup yang sempurna, melainkan mencari kedamaian yang lebih dalam di tengah ketidakpastian hidup.

Namun, hal ketiga adalah yang terpenting: cinta Tuhan melalui sesama. Inilah yang memberi makna pada hidup kita, melampaui kenyamanan pribadi dan pencapaian duniawi.

Tujuan di Balik Sukacita Kita

Roma 8:28 adalah ayat yang sering dikutip, tetapi pesannya menjadi semakin jelas ketika kita membaca ayat berikutnya:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28, TB)

Lalu, Santo Paulus menjelaskan lebih lanjut apa arti kebaikan itu:

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.” (Roma 8:29, TB)

Kedua ayat ini mengungkapkan dua kebenaran penting.

Pertama, mencintai Tuhan bukan sekadar percaya kepada-Nya atau meminta-Nya memberkati rencana kita. Mencintai Tuhan berarti menanggapi panggilan-Nya dan membiarkan hidup kita dibentuk agar semakin menyerupai Kristus. Katekismus Gereja Katolik mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan kita agar dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang membahagiakan (KGK 1).

Kedua, Tuhan dapat mendatangkan kebaikan bahkan dari keadaan yang menyakitkan. Katekismus mengajarkan bahwa Tuhan dapat mendatangkan kebaikan dari akibat kejahatan, tanpa menjadikan kejahatan itu sendiri sebagai sesuatu yang baik (KGK 312–314).

Karena itu, kebaikan terbesar bagi kita bukan sekadar memperoleh apa yang kita inginkan. Kebaikan terbesar itu adalah menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki dan pada akhirnya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya.

Sukacita di Tengah Dukacita

Apakah ini berarti bahwa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan akan selalu nyaman atau membahagiakan?

Tidak.

Sukacita Kristiani bukan berarti berpura-pura bahwa penderitaan tidak menyakitkan. Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, mengajarkan bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia juga menjadi kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para pengikut Kristus (GS 1).

Kita dapat mencintai Tuhan sekaligus mengalami kesedihan, kekecewaan, kelelahan, dan ketidakpastian. Yang berubah belum tentu perasaan kita setiap saat, melainkan makna dan arah hidup kita.

Bayangkan ketika kita jatuh cinta. Ketika sungguh-sungguh mencintai seseorang, kita bersedia melakukan lebih banyak daripada yang biasanya kita lakukan. Kita rela mengorbankan waktu, menghadapi ketidaknyamanan, dan mengatasi kesulitan yang mungkin akan kita hindari jika tidak memiliki cinta. Masalahnya tetap ada, tetapi cinta memberi kita alasan untuk bertahan.

Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Ketika melayani hanya karena merasa terpaksa, setiap hambatan dapat menjadi alasan untuk mengeluh. Namun, ketika melayani karena cinta, pengorbanan dapat menjadi bermakna, bahkan membawa sukacita.

Ini bukan berarti kita harus menikmati setiap kesulitan. Yang penting adalah mengetahui mengapa kita bertahan dan untuk siapa kita melakukannya.

Hidup yang Layak Dijalani

Menemukan panggilan hidup membantu kita memahami mengapa kita bangun setiap pagi, mengapa kita terus melangkah, dan mengapa tanggung jawab tertentu layak kita pikul.

Yesus mengajak kita untuk memikul salib dan mengikuti-Nya (Matius 16:24). Salib tidak selalu menyenangkan, tetapi cinta dapat mengubah cara kita memikulnya.

Bayangkan jika kita berhasil memperoleh segala sesuatu yang menurut dunia harus kita kejar, tetapi kehilangan sukacita dalam mencintai Tuhan melalui sesama. Apa arti semua keberhasilan itu?

Marilah kita mengejar hidup yang sungguh-sungguh membawa sukacita—bukan sekadar hidup yang penuh kenyamanan, kekayaan, atau pengakuan, melainkan hidup yang membuat kita bersyukur atas apa yang kita miliki, mencari kedamaian hati, dan mencintai sesama sesuai dengan kehendak Tuhan.

Itulah hidup yang membuat kita memiliki alasan untuk bangun setiap pagi.

Sources / Sumber