Choosing happiness

Choosing happiness may sound like a cliché, but in reality, it is not easy. Happiness is something many people dream of. But how do we achieve it?

There are two perspectives I would like to share.

1. Fear Is the Enemy of Happiness

A happy person is not someone who always feels happy, but someone who chooses to remain happy. Happiness does not come automatically; the choice begins with the way we think.

Fear is important because it helps us make wise decisions. However, when it becomes excessive, fear turns into an enemy. There are five major fears that often dominate our lives: the fear of death, poverty, illness, emotional hurt, and failure.

The Christian faith gives us a foundation for facing all these fears: Jesus makes us children of God. When we truly believe in this identity, faith is no longer merely knowledge. It becomes a conviction that shapes how we think, feel, and choose to remain happy amid life's challenges.

Christians may feel afraid. However, fear can be overcome not merely through logic or by escaping into medication, companionship, parties, and other distractions, but through three theological virtues: faith, hope, and love.

Faith opens the door to hope: the hope of forgiveness for our sins and eternal life as children of God. This hope enables us to love. When love is no longer ruled by fear, we no longer remain constantly focused on ourselves.

Consider a leader, for example. A good leader does not exploit those under his care for personal gain. Instead, he serves and uses his influence to improve the lives of others, following Jesus' example of washing His disciples' feet (John 13:14–15). He is no longer preoccupied with his own interests but directs his life toward the good of others, especially the most vulnerable.

2. Choosing Happiness Even in Difficult Circumstances

What if we are genuinely experiencing difficult circumstances, such as illness, bankruptcy, or other forms of suffering? How can we still choose happiness?

We can choose to offer our suffering to Jesus as an expression of love for Him and as a prayer for the salvation of others, both the living and the dead.

If our suffering reminds us of past sins, whether sins we recognize or those we previously failed to recognize, we can choose to repent and receive the Sacrament of Reconciliation. We can rejoice because, regardless of our past mistakes, God continues to open the way to forgiveness and welcomes us back in His love, giving us hope for eternal life with Him.

May we resist the devil's schemes to keep us trapped in fear and sorrow. We choose happiness because we are grateful to be children of God, trust in His love and forgiveness, and place our hope in His promise of eternal life.


Memilih Bahagia

Memilih bahagia mungkin terdengar klasik, tetapi kenyataannya tidak mudah. Kebahagiaan adalah impian banyak orang. Namun, bagaimana kita mewujudkannya?

Ada dua perspektif yang ingin saya bagikan.

1. Musuh kebahagiaan adalah ketakutan

Orang yang bahagia bukanlah orang yang selalu merasa bahagia, melainkan orang yang memilih untuk tetap bahagia. Kebahagiaan bukan sesuatu yang otomatis hadir; pilihan itu berawal dari cara kita berpikir.

Rasa takut sebenarnya penting agar kita bijaksana dalam menentukan langkah. Namun, ketika berlebihan, ketakutan justru menjadi musuh. Ada lima ketakutan utama yang sering menguasai hidup kita: takut mati, takut miskin, takut sakit, takut disakiti hatinya, dan takut gagal.

Iman Kristen memberi kita dasar untuk menghadapi semua itu: Tuhan Yesus menjadikan kita anak-anak Allah. Ketika kita sungguh percaya akan identitas ini, iman bukan lagi sekadar pengetahuan, melainkan keyakinan yang memengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan memilih untuk tetap bahagia di tengah tantangan.

Orang Kristen boleh merasa takut. Namun, ketakutan dapat dikalahkan bukan hanya dengan logika atau melarikan diri melalui obat-obatan, teman, pesta, dan berbagai pelarian lainnya, melainkan dengan tiga keutamaan: iman, pengharapan, dan kasih.

Iman membuka pintu pengharapan: pengharapan akan pengampunan dosa dan kehidupan kekal sebagai anak Allah. Dari pengharapan inilah kita dimampukan untuk mengasihi. Ketika kasih tidak lagi dikuasai ketakutan, kita tidak terus-menerus berpusat pada diri sendiri.

Seorang pemimpin, misalnya, tidak memanfaatkan orang-orang yang dipimpinnya demi kepentingan pribadi. Ia melayani dan menggunakan pengaruhnya untuk memperbaiki kehidupan orang lain, mengikuti teladan Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya (Yohanes 13:14–15). Ia tidak lagi sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri, tetapi mampu mengarahkan hidupnya untuk kebaikan orang dari yang paling lemah.

2. Memilih bahagia meskipun mengalami keadaan buruk

Bagaimana jika kita benar-benar sedang mengalami keadaan buruk, seperti sakit, kebangkrutan, atau penderitaan lainnya? Bagaimana kita tetap dapat memilih bahagia?

Kita dapat memilih untuk mempersembahkan penderitaan kita kepada Tuhan Yesus sebagai ungkapan kasih kepada-Nya dan sebagai doa bagi keselamatan orang lain, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Jika penderitaan mengingatkan kita akan dosa-dosa masa lalu, baik yang kita sadari maupun yang sebelumnya tidak kita sadari, kita dapat memilih untuk bertobat dan menerima Sakramen Rekonsiliasi. Kita dapat bersukacita karena, apa pun kesalahan kita di masa lalu, Tuhan tetap membuka jalan bagi pengampunan dan menerima kita kembali dalam kasih-Nya, dengan harapan akan kehidupan kekal bersama-Nya.

Semoga kita mampu melawan tipu muslihat Iblis yang ingin membuat kita terus-menerus takut dan bersedih. Kita memilih bahagia karena bersyukur menjadi anak-anak Allah, percaya akan kasih dan pengampunan-Nya, serta berharap pada janji kehidupan kekal.